Box Cerita
Jumat, 28 Februari 2020
Kamis, 03 Oktober 2013
Cerpen Islami : Kasih Sepanjang Jalan
Di stasiun kereta api
bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5
pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini
memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju
masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti
salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.
Stasiun
yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang
kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah
perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku
masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi
itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku
menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.
Tiga
hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak
beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit
keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal,
pulanglah meski sebentar, kakc". Aku mengeluh perlahan membuang sesal
yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali
ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia
bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu
seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba
rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin
menyesalc
Sebenarnya
aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di
sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua
puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di
negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan
sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.
Sudah
hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku
menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota
kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam
rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.
Masih
tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika
aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku
kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak
perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena
aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku
berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.
Pada
akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing.
Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan
dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk
rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu
banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang
bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak
tuntutan.
Namun
ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah
aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian
diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus
rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja,
aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.
Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres
yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu,
sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke
dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan
sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir
semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan
melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan
tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi
ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali
berputar dalam ingatanku.
Ibu..ya
betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu
dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar.
Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan
musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan
dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir
ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan.
Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak
mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu,
maafkan keteledoranku selama inic" bisikku perlahan.
Cahaya
matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru
ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang.
Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi
pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku
teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa
dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak
terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka
sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang
banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun
terhadap orang tua.
Aku
sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin
padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan
dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas
membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau
selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja.
Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya.
Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari
pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam
gelisah.
Riko
juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan
sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat
bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu
buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak
membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di
rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah.
Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun
memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja
dan keluarga.
Melihat
anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku
alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku
jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak
ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku
menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku
mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan
ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari
dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan
yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium
tangan ibu....
Di
luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan,
semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin
kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap
sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu
sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah
malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa
buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah
sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.
Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass
di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam
perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu
seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area,
membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi
kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak
yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil
berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan
putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.
Yogya
belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku
meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini
memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku
lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah
membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya.
Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua
hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.
Rumah
berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih
seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu,
tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang
berubah, ibu...
Wajah
ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu
tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak
sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini
datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan
dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku
membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku
rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami
berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air
mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu
pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.."
ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku
selama ini.
Cerpen Islami : Rahasia Sebuah Peristiwa
Berikut merupakan salah satu Cerpen Islami yang terbaik di web ini. dan selamat membaca buat semuanya
Sungawi sangat sedih, meratapi nasibnya menjadi orang miskin. Sungawi ingin sekali bekerja di salah satu pabrik atau perusahaan, namun ia hanya bisa berangan-angan karena ia hanya tamat SMP. Prestasi pun tidak punya. Ia hanya sebagai seorang pekerja serabutan dengan penghasilan yang kurang dari cukup.
Pada suatu hari ia bertekat ingin melamar pekerjaan karena ia ditawari temannya untuk bekerja di sebuah perusahaan temannya. Ia sangat senang sampai tidak tahu harus bagaimana. Pagi hari itu ketika ibu belum bangun Sungawi hanya meninggalkan sepucuk surat di tangan ibunya yang sedang tidur. Ia segera menaiki sepedanya untuk menuju ke perusahaan tersebut.
Ketika di perjalanan ia berangan-angan apa yang akan dilakukannya jika sudah mendapatkan bayaran hingga ia jatuh ke dalam got, sesaat setelah ia terjatuh ke dalam got, sebuah pohon yang besar tumbang. Akhirnya celananya pun kotor sekali dan berbau tidak enak. Ia sangat sedih, namun ia belum patah semangat. Ia pergi ke sebuah toko di sebelah got itu untuk membeli sebuah celana, namun dengan uangnya yang sedikit ia pun hanya mendapatkan sebuah celana yang tidak sesuai ukurannya. Apa boleh buat, dia pun segera membelinya dan segera bergegas, namun ia kerepotan ketika akan berangkat lagi, karena terhalan pohon besar yang tumbang.
Ketika di Traffic Light, dia menunggu lampu merah hingga berganti hijau. Namun 2 menit berlalu nomor di traffic light itu tidak berhenti dan hatinya kesal akhirnya ia semakin geram dan menggerutu ingin menerobos lampu merah itu, lalu ia bersabar. Akhirnya lampu berubah ke warna hijau, ia mengayuh sekencang mungkin hingga sampai di Jalan Enggano. Di Jalan itu ia tiba-tiba bingung mana belokan yang harus dilewati, lalu ia merogohi celananya, ia sadar bahwa alamat kantor itu tertinggal di celananya tadi. Dan ketika kembali celananya sudah diambil tukang rosok.
Dengan hati penuh kesal, ia pulang lagi ke rumah dan tidak jadi melamar pekerjaan itu. Ia terus kesal dan muram hingga malam hari ia akan tidur. Waktu akan tidur ia mengeluh kepada Allah, bahwa masalahnya sangat besar. Ia berdoa agar Allah memberi jawaban. Ketika di dalam mimpi ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang berlari mengejarnya, ia pun lari ketakukan namun di sekelilingnya hanya gelap. Ia tersandung dan jatuh, lalu orang itu menolongnya. Lalu ia bilang bahwa semua kejadian yang ia alami tadi pagi adalah pertolongan Allah. Ia heran, dia sangat sial seperti itu malah dibilang pertolongan Allah. Lalu orang itu menjelaskan bahwa ketika ia terjatuh ke dalam got sebenarnya Allah menyelamatkannya dari sebuah kecelakaan, jika ia tidak terjatuh ke dalam got, dia pasti akan terkena pohon yang tumbang. Lalu ia bertanya kenapa lampu traffic light error hingga waktu yang lama, lalu orang itu menjelaskan bahwa jika ia menerobos lampu merah, ia akan tertabrak truk. Lalu ia bertanya lagi kenapa ia kehilangan kertas yang berisikan alamat. Lalu orang itu menjelaskan, bahwa ia ditipu temannya, jika ia sampai lewat jalan itu, pasti dia akan dihajar oleh preman karena dia tidak memiliki uang. Karena belokan yang dituliskan temannya adalah jalan yang salah dan penuh marabahaya. Sungawi pun sadar bahwa itu semua adalah rahasia dibalik kesialan yang dialaminya.
Ia pun sadar bahwa Allah tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan. Baik itu berupa kesialan maupun keberuntungan. Selalu ada sebuah rahasia di balik itu. Akhirnya beberapa hari setelah itu, ia mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan. Ia sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah.
Cerpen Karangan: Ahmad Ghulam Azkiya
Facebook: www.fb.me/suzuranscout
Halo! Namaku Ghulam! Aku seorang anak biasa yang sedang diberi tugas oleh guruku untuk membuat cerpen, jadi aku iseng-iseng untuk mempublikasikan di sebuah situs ini. Semoga cerpen ini bisa menjadi nasihat untuk kalian yang sedang berputus asa
Sungawi sangat sedih, meratapi nasibnya menjadi orang miskin. Sungawi ingin sekali bekerja di salah satu pabrik atau perusahaan, namun ia hanya bisa berangan-angan karena ia hanya tamat SMP. Prestasi pun tidak punya. Ia hanya sebagai seorang pekerja serabutan dengan penghasilan yang kurang dari cukup.
Pada suatu hari ia bertekat ingin melamar pekerjaan karena ia ditawari temannya untuk bekerja di sebuah perusahaan temannya. Ia sangat senang sampai tidak tahu harus bagaimana. Pagi hari itu ketika ibu belum bangun Sungawi hanya meninggalkan sepucuk surat di tangan ibunya yang sedang tidur. Ia segera menaiki sepedanya untuk menuju ke perusahaan tersebut.
Ketika di perjalanan ia berangan-angan apa yang akan dilakukannya jika sudah mendapatkan bayaran hingga ia jatuh ke dalam got, sesaat setelah ia terjatuh ke dalam got, sebuah pohon yang besar tumbang. Akhirnya celananya pun kotor sekali dan berbau tidak enak. Ia sangat sedih, namun ia belum patah semangat. Ia pergi ke sebuah toko di sebelah got itu untuk membeli sebuah celana, namun dengan uangnya yang sedikit ia pun hanya mendapatkan sebuah celana yang tidak sesuai ukurannya. Apa boleh buat, dia pun segera membelinya dan segera bergegas, namun ia kerepotan ketika akan berangkat lagi, karena terhalan pohon besar yang tumbang.
Ketika di Traffic Light, dia menunggu lampu merah hingga berganti hijau. Namun 2 menit berlalu nomor di traffic light itu tidak berhenti dan hatinya kesal akhirnya ia semakin geram dan menggerutu ingin menerobos lampu merah itu, lalu ia bersabar. Akhirnya lampu berubah ke warna hijau, ia mengayuh sekencang mungkin hingga sampai di Jalan Enggano. Di Jalan itu ia tiba-tiba bingung mana belokan yang harus dilewati, lalu ia merogohi celananya, ia sadar bahwa alamat kantor itu tertinggal di celananya tadi. Dan ketika kembali celananya sudah diambil tukang rosok.
Dengan hati penuh kesal, ia pulang lagi ke rumah dan tidak jadi melamar pekerjaan itu. Ia terus kesal dan muram hingga malam hari ia akan tidur. Waktu akan tidur ia mengeluh kepada Allah, bahwa masalahnya sangat besar. Ia berdoa agar Allah memberi jawaban. Ketika di dalam mimpi ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang berlari mengejarnya, ia pun lari ketakukan namun di sekelilingnya hanya gelap. Ia tersandung dan jatuh, lalu orang itu menolongnya. Lalu ia bilang bahwa semua kejadian yang ia alami tadi pagi adalah pertolongan Allah. Ia heran, dia sangat sial seperti itu malah dibilang pertolongan Allah. Lalu orang itu menjelaskan bahwa ketika ia terjatuh ke dalam got sebenarnya Allah menyelamatkannya dari sebuah kecelakaan, jika ia tidak terjatuh ke dalam got, dia pasti akan terkena pohon yang tumbang. Lalu ia bertanya kenapa lampu traffic light error hingga waktu yang lama, lalu orang itu menjelaskan bahwa jika ia menerobos lampu merah, ia akan tertabrak truk. Lalu ia bertanya lagi kenapa ia kehilangan kertas yang berisikan alamat. Lalu orang itu menjelaskan, bahwa ia ditipu temannya, jika ia sampai lewat jalan itu, pasti dia akan dihajar oleh preman karena dia tidak memiliki uang. Karena belokan yang dituliskan temannya adalah jalan yang salah dan penuh marabahaya. Sungawi pun sadar bahwa itu semua adalah rahasia dibalik kesialan yang dialaminya.
Ia pun sadar bahwa Allah tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan. Baik itu berupa kesialan maupun keberuntungan. Selalu ada sebuah rahasia di balik itu. Akhirnya beberapa hari setelah itu, ia mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan. Ia sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah.
Cerpen Karangan: Ahmad Ghulam Azkiya
Facebook: www.fb.me/suzuranscout
Halo! Namaku Ghulam! Aku seorang anak biasa yang sedang diberi tugas oleh guruku untuk membuat cerpen, jadi aku iseng-iseng untuk mempublikasikan di sebuah situs ini. Semoga cerpen ini bisa menjadi nasihat untuk kalian yang sedang berputus asa
Cerpen Islami : Rasa Yang Aneh
26 April. Di tanggal itu, tinta merah menandai kalender pribadiku dengan gambar waru.
“Dmn” Tanya dia melalui sms.
“D rmh” Jawabku singkat meniru gaya smsnya.
“Ak mau ajak adik” Katanya to the point.
“Kmn?” Aku tak mengerti.
“Jgn bnyak tanya” Nadanya sedikit kasar.
“Aku tunggu dmn?” Tetap saja aku bertanya, karena memang tidak mengerti kemauannya.
“Tp ndk enak,ntar blg2” Intinya dia mengajukan syarat.
“Klo gk enak ya gk usah lah.” Saranku.
“Mau apa ndak” Dia memberi pilihan.
“Oke, rahasia. Sebenarnya q jg ingin tau masku ni orgnya seperti apa.” Tanda aku setuju.
“Aku cium keningmu” Balasnya cepat.
Apa-apaan dia. Aneh, penuh teka-teki dan misteri. Tapi tetap saja kata-katanya aku turuti. Aku segera mandi dan menunggu bis. Matahari mulai terik. Jam di hpku menunjukkkan pukul 10.00 am. Dia memintaku ke tempat tertentu di kota sebelah. Entah kekuatan apa yang merasukiku, aku menurut saja.

Sayup-sayup kudengar lagu Innocencenya Avril, suara itu nada dering ponselku. Kurogoh tasku dan mengangkat panggilan yang masuk. Setelah mengucap salam aku hanya ‘hallo-hallo’ saja, tidak kedengaran, ada pangrove jalanan yang sedang unjuk suara.
“Tidak terdengar. Sms saja.” Teriakku pada seseorang di telepon, lalu kupencet tombol merah.
“Dmn” Satu sms masuk.
“Kemungkinan lama sampainya.” Balasku.
“Jgn bnyak omong.cepat brgkt.ak uda d jln.” Sudah jadi kebiasaannya menulis tanpa memperhatikan tanda baca, kadang ejaannya pun salah dan tak beraturan.
“Iya say, ini dah dlm bis.” Kata manis menjadi balasan kata-katanya yang sedikit menggores hati. Dia memang seperti itu, tapi sepertinya aku sudah terbiasa.
‘Sayang’, kata yang beberapa kali dia ucapkan padaku. Kata yang membuatku melayang. Tapi baru waktu itu aku mengucapkan kata serupa. Walaupun hanya singkatan, rasanya berat untuk diungkapkan. Hah!!
Tiap beberapa menit hpku bergetar, tapi tak kugubris. Lha akunya berdiri, bisnya penuh, sesak, susah mau bergerak. Saat turun dari bis, kubuka hp, smsnya menumpuk di inbox. Di satu sms dia bilang kalau dia menunggu di tempat lain.
“Ah, q ni baru turun dr bis. Lagian gk enak klo bayarnya segitu tp mau turun lebih jau.” Protesku padanya.
“Naik lg,dekat dik” Perintah dia yang lagi-lagi aku turuti.
Aku naik kendaraan umum yang disebut kol. Entah apa yang menguatkanku, aku jadi berani di daerah yang tidak ku kenal, yang tidak kuketahui mana arah utara atau selatan. Kugunakan ilmu sosialku untuk berkomunikasi dengan orang yang kutemui. Tidaklah sulit. 10 menit kemudian, aku turun.
Daerahnya memang benar, tapi dia tidak sedang di situ. Dia menunggu di rumah makan yang dia smskan namanya. Dia menyuruhku mendatanginya di tempat itu. Aku capek sekali. Panas matahari sangat menyengat.
“Disini saja” Tolakku.
“Tolonglah dik, ak sudah nunggu lama.”
Ya, aku luluh, aku naik angkutan kecil yang disebut len. Semenjak berangkat dari rumah kata yang selalu dia smskan ‘dmn’, aku membalasnya dengan melaporkan di daerah mana aku berada. Sampai di daerah yang tidak kukenal pun, dia masih bertanya ‘dmn’ posisiku.
“Supirnya gk tau dmn itu.” Aku bingung harus turun dimana, sementara supirnya saja tidak tau alamat yang dia smskan padaku.
“Dmn” Sms dia lagi, membuatku semakin lelah.
“Di hatimu” Jawabku sekenanya.
“Aku jemput” Jawabannya membuatku senang. Tapi terlambat. Saat menoleh, kubaca plakat bertuliskan nama rumah makan sama dengan yang dia smskan.
“Turun sini, Pak” Kataku cepat pada pak supir.
“Kalau ini, ya tau saya, Neng.” Aku hanya tersenyum sadar kalau ada miss communication antara aku dan supir len.
“Aku di luar” Smsku padanya.
Benar. Kulihat dari jauh, lelaki bersarung dan berkopyah rajutan pres kepala keluar dari tempat makan di seberang jalan. Selang beberapa tarikan nafas, mobil mewah warna silver berhenti tepat di depanku. Kacanya secara otomatis dia buka, aku membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Kita hanya berdua.
Mobil berhenti di mini market bercat kombinasi merah, putih dan kuning. Setelah turun, aku kembali dengan membawa satu pack rokok plus beberapa lembar uang kembalian dan wafer tabung sebagai ganti uang kembalian receh. Semua yang kubawa kuberikan padanya, karena memang miliknya, dia minta tolong padaku untuk membelikan rokok favoritnya. Dia langsung menyalakan dan menghisap rokoknya. Tidak lama, dia membuang sisa putung rokok dan kembali melajukan mobil.
Aku melihat-lihat gedung yang ada di tepi jalan, tak berani kutatap wajahnya. Pertemuan itu pertama kali aku berada sangat dekat dengannya.
“Jujur, aku tidak pernah jalan berdua dengan perempuan seperti ini. Paling dengan kawan, rame-rame. Kalau kamu?” Dia mencairkan suasana.
“Sering. Ya, kadang-kadang lah.” Aku juga menjawabnya dengan jujur.
Aku memang beberapa kali jalan dengan kakak tingkatku, tapi 26 April adalah jalan berdua dengan menaiki mobil pertama kalinya buatku.
“Tadi ke Ibu, pamitnya kemana?” Tanyanya lagi.
“Ya berangkat aja. Emang udah biasa keluar rumah kan. Nanti sore ada kuliah” Jelasku.
“Anggap saja kita sedang pacaran.” Katanya kemudian.
Aku hanya diam mendengar kata-katanya. Aku duduk memangku tas ranselku dengan kedua tangan ketengkurapkan berdekatan di atasnya. Kejadiannya begitu cepat, tidak bisa kugambarkan secara detail. Sambil menyetir, tiba-tiba saja tangannya mendarat di punggung tanganku. Aku diamkan. Dia memasukkan jari-jari tangannya di sela jemariku. Dia genggam erat. Tidak hanya menggenggam, dia seperti meremasnya. Sentuhannya membuatku damai. Aku hanya diam merasakannya, dia yang terus bergerak.
Entah mengapa, aku tergerak. Kubalik tanganku, posisi berubah dimana telapak tanganku menyentuh telapak tangannya. Bersatu. Tanganku membalas genggamannya. Yah, kita sama-sama berdosa. Kita mengobrol tanpa melepas genggaman. Kurasa waktu itu malaikat Atit sedang sibuk mencatat kelakuanku yang tidak baik.
“Pernah ada mahasiswi konsultasi, bagaimana jika seseorang mengungkapkan cinta dengan ciuman…” Dia seperti akan bercerita, tapi aku mengerti maksudnya.
“Menyindirku? Aku tidak pernah ciuman.” Aku memotong perkataannya.
“Benar?”
“Aku bukan pembohong.” Kulepaskan genggamannya dan melempar tangannya sedikit menjauh dariku.
Aku memang pernah kencan, tapi tak pernah kubiarkan lelaki dengan leluasa menyentuhku. Ya, kecuali hari itu. Aku membiarkannya.
Tangannya kembali mendekati tanganku, kali ini dia menggenggam kedua tanganku secara bersamaan. Aku pasrah dengan yang dia lakukan, aku terima.
“Boleh aku menciummu? Hari ini saja. Setelah itu lupakan. Anggap hari ini tak pernah ada. Dan bila kita bertemu di lain hari, kembali bersikap seperti biasa. Kita begini cukup hari ini.”
“Tetaplah tidak boleh meskipun cuma hari ini.”
Dia menghela napas, melepas genggamannya dan diam.
“Tidak mau kalau jalan tidak ada tujuan begini, kita mau kemana?” Tanya dia kemudian.
“Yang mengajak yang memutuskan.” Jawabku.
“Aku lelah sekali, banyak pekerjaan. Biasanya kalau kesini aku istirahat di hotel langgananku. Aku pengen tidur. Mau kalau ke hotel?” Ajak dia.
“Malu ah, penampilanku seperti ini.” Alasanku saja untuk menolaknya. Alasan yang tepat karena waktu itu aku memakai rok, kaos pendek yang kututup dengan jaket dan tak lupa berjilbab.
“Lucu kamu ini.” Dia tertawa kecil.
Perasaanku sudah membiusku sampai berani melakukan hal sejauh ini. Bagaimana aku bisa menjamin kalau aku tidak akan melakukan dosa yang lebih besar jika aku di dalam hotel hanya berdua bersamanya? Mungkin ini hikmah melakukan shalat. Ketika berada dalam situasi tak dapat mengendalikan diri, shalat menjalankan perannya sebagai amar ma’ruf nahi mungkar, meskipun tidak merasakannya secara langsung. Tentulah shalatku masih belum sempurna, sehingga pengendalian diriku pun ala kadarnya.
Dia menerima telepon dari entah siapa. Dia bilang ada pekerjaaan penting jadi tidak bisa mengantarku pulang. Dia menggenggam tanganku lagi, sebagai perpisahan kalau tak akan ada hari dimana kita sengaja melakukan dosa lagi, hari yang mungkin akan kurindukan. Akhirnya, dia menurunkanku di tepi jalan dan pergi.
Hari itu aku merasakan rasa yang aneh. Mengikat kuat seperti jerat. Terasa indah penuh pesona. Merubah lelah jadi gairah. Luka, hanyalah titik bahagia tertunda. Rindu, selalu terasa menggebu. Murka, takkan pernah bisa berkuasa. Bahagia ketika bersama. Mencari saat satu pergi. Berbagi sangatlah berarti. Entah rasa apakah ini? Tak bisa kusimpulkan apakah ini gejolak perasaan atau bisikan setan.
Mobilnya menjauh dari tempatku berdiri. Jam 01.00 pm. Kencan kilat kami hanya berlaku 1 jam. Bahagia dan kecewa. Aku bahagia karena walaupun tak pernah mengimpikannya, aku melakukan hal itu bersamanya. Jalan berdua dengannya membuat hatiku sejahtera, yah, mengesampingkan bahwa itu adalah dosa. Tapi aku sangat kecewa. Kenapa dia berlaku seperti itu? Padahal di anganku dia adalah lelaki yang menjunjung tinggi norma agama, lelaki yang melakukan banyak hal untuk kebaikan umat. Dan kenyataan yang kulihat, dia seperti lelaki yang tak mampu menahan hasrat.
Tapi aku rasa tidak mungkin jika dia melakukan itu karena berhasrat. Lelaki seperti dia tentu bisa mendapatkan wanita yang lebih dariku, yang cantik, kaya, dari keluarga berada dan sholihah. Aku tak selevel dengannya. Strata kita berbeda. Dia menganggapku sebagai adik saja itu sudah bagus. Apa mungkin untuk menguji keimananku? Ah, aku percaya dia bukan orang tinggi hati yang merasa dirinya paling benar sehingga perlu menguji keimanan orang lain. Atau mungkin dia memang seperti itu? Suka jalan dengan gadis dan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Dia bilang tak pernah seperti itu sebelumnya, tapi siapa yang tau kalau dia bohong. Sudahlah, cukup! Tak baik menjudge orang lain. Tapi jujur, hari itu aku sedikit tersinggung. Dia memperlakukanku seperti jajanan pinggir jalan yang sayang bila tidak dicicipi, dan ketika sudah bosan ditinggalkan.
Setelah hari itu otakku mengatakan kalau dia tidak baik. Menyebutkan sepuluh bahkan lebih ketidak baikan dari dirinya mungkin bisa. Tapi hatiku mengatakan dia tetaplah baik. Sangat baik. Namun aku tak mampu menyebutkan satu hal pun yang membuatnya menjadi baik di hatiku.
Hari itu aku belajar bahwa hati bisa jatuh kepada siapa saja tanpa pandang itu baik atau buruk, pantas atau senjang, dan halal atau haram. Perasaan yang sering diagungkan kadang juga bisa melemahkan, dan ketika itu terjadi, agamalah yang mampu meluruskan. Kuakui, hari itu aku melakukan kesalahan. Seperti permintaannya, biarlah hari itu menjadi rahasia. Rahasia dia, rahasiaku dan rahasia kita para pembaca. Benar tidaknya, Tuhanlah yang Maha Mengetahui segalanya…
WASSALAM
Cerpen Karangan: Miga Imaniyati
Facebook: Miga Imaniyati
“Dmn” Tanya dia melalui sms.
“D rmh” Jawabku singkat meniru gaya smsnya.
“Ak mau ajak adik” Katanya to the point.
“Kmn?” Aku tak mengerti.
“Jgn bnyak tanya” Nadanya sedikit kasar.
“Aku tunggu dmn?” Tetap saja aku bertanya, karena memang tidak mengerti kemauannya.
“Tp ndk enak,ntar blg2” Intinya dia mengajukan syarat.
“Klo gk enak ya gk usah lah.” Saranku.
“Mau apa ndak” Dia memberi pilihan.
“Oke, rahasia. Sebenarnya q jg ingin tau masku ni orgnya seperti apa.” Tanda aku setuju.
“Aku cium keningmu” Balasnya cepat.
Apa-apaan dia. Aneh, penuh teka-teki dan misteri. Tapi tetap saja kata-katanya aku turuti. Aku segera mandi dan menunggu bis. Matahari mulai terik. Jam di hpku menunjukkkan pukul 10.00 am. Dia memintaku ke tempat tertentu di kota sebelah. Entah kekuatan apa yang merasukiku, aku menurut saja.
Sayup-sayup kudengar lagu Innocencenya Avril, suara itu nada dering ponselku. Kurogoh tasku dan mengangkat panggilan yang masuk. Setelah mengucap salam aku hanya ‘hallo-hallo’ saja, tidak kedengaran, ada pangrove jalanan yang sedang unjuk suara.
“Tidak terdengar. Sms saja.” Teriakku pada seseorang di telepon, lalu kupencet tombol merah.
“Dmn” Satu sms masuk.
“Kemungkinan lama sampainya.” Balasku.
“Jgn bnyak omong.cepat brgkt.ak uda d jln.” Sudah jadi kebiasaannya menulis tanpa memperhatikan tanda baca, kadang ejaannya pun salah dan tak beraturan.
“Iya say, ini dah dlm bis.” Kata manis menjadi balasan kata-katanya yang sedikit menggores hati. Dia memang seperti itu, tapi sepertinya aku sudah terbiasa.
‘Sayang’, kata yang beberapa kali dia ucapkan padaku. Kata yang membuatku melayang. Tapi baru waktu itu aku mengucapkan kata serupa. Walaupun hanya singkatan, rasanya berat untuk diungkapkan. Hah!!
Tiap beberapa menit hpku bergetar, tapi tak kugubris. Lha akunya berdiri, bisnya penuh, sesak, susah mau bergerak. Saat turun dari bis, kubuka hp, smsnya menumpuk di inbox. Di satu sms dia bilang kalau dia menunggu di tempat lain.
“Ah, q ni baru turun dr bis. Lagian gk enak klo bayarnya segitu tp mau turun lebih jau.” Protesku padanya.
“Naik lg,dekat dik” Perintah dia yang lagi-lagi aku turuti.
Aku naik kendaraan umum yang disebut kol. Entah apa yang menguatkanku, aku jadi berani di daerah yang tidak ku kenal, yang tidak kuketahui mana arah utara atau selatan. Kugunakan ilmu sosialku untuk berkomunikasi dengan orang yang kutemui. Tidaklah sulit. 10 menit kemudian, aku turun.
Daerahnya memang benar, tapi dia tidak sedang di situ. Dia menunggu di rumah makan yang dia smskan namanya. Dia menyuruhku mendatanginya di tempat itu. Aku capek sekali. Panas matahari sangat menyengat.
“Disini saja” Tolakku.
“Tolonglah dik, ak sudah nunggu lama.”
Ya, aku luluh, aku naik angkutan kecil yang disebut len. Semenjak berangkat dari rumah kata yang selalu dia smskan ‘dmn’, aku membalasnya dengan melaporkan di daerah mana aku berada. Sampai di daerah yang tidak kukenal pun, dia masih bertanya ‘dmn’ posisiku.
“Supirnya gk tau dmn itu.” Aku bingung harus turun dimana, sementara supirnya saja tidak tau alamat yang dia smskan padaku.
“Dmn” Sms dia lagi, membuatku semakin lelah.
“Di hatimu” Jawabku sekenanya.
“Aku jemput” Jawabannya membuatku senang. Tapi terlambat. Saat menoleh, kubaca plakat bertuliskan nama rumah makan sama dengan yang dia smskan.
“Turun sini, Pak” Kataku cepat pada pak supir.
“Kalau ini, ya tau saya, Neng.” Aku hanya tersenyum sadar kalau ada miss communication antara aku dan supir len.
“Aku di luar” Smsku padanya.
Benar. Kulihat dari jauh, lelaki bersarung dan berkopyah rajutan pres kepala keluar dari tempat makan di seberang jalan. Selang beberapa tarikan nafas, mobil mewah warna silver berhenti tepat di depanku. Kacanya secara otomatis dia buka, aku membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Kita hanya berdua.
Mobil berhenti di mini market bercat kombinasi merah, putih dan kuning. Setelah turun, aku kembali dengan membawa satu pack rokok plus beberapa lembar uang kembalian dan wafer tabung sebagai ganti uang kembalian receh. Semua yang kubawa kuberikan padanya, karena memang miliknya, dia minta tolong padaku untuk membelikan rokok favoritnya. Dia langsung menyalakan dan menghisap rokoknya. Tidak lama, dia membuang sisa putung rokok dan kembali melajukan mobil.
Aku melihat-lihat gedung yang ada di tepi jalan, tak berani kutatap wajahnya. Pertemuan itu pertama kali aku berada sangat dekat dengannya.
“Jujur, aku tidak pernah jalan berdua dengan perempuan seperti ini. Paling dengan kawan, rame-rame. Kalau kamu?” Dia mencairkan suasana.
“Sering. Ya, kadang-kadang lah.” Aku juga menjawabnya dengan jujur.
Aku memang beberapa kali jalan dengan kakak tingkatku, tapi 26 April adalah jalan berdua dengan menaiki mobil pertama kalinya buatku.
“Tadi ke Ibu, pamitnya kemana?” Tanyanya lagi.
“Ya berangkat aja. Emang udah biasa keluar rumah kan. Nanti sore ada kuliah” Jelasku.
“Anggap saja kita sedang pacaran.” Katanya kemudian.
Aku hanya diam mendengar kata-katanya. Aku duduk memangku tas ranselku dengan kedua tangan ketengkurapkan berdekatan di atasnya. Kejadiannya begitu cepat, tidak bisa kugambarkan secara detail. Sambil menyetir, tiba-tiba saja tangannya mendarat di punggung tanganku. Aku diamkan. Dia memasukkan jari-jari tangannya di sela jemariku. Dia genggam erat. Tidak hanya menggenggam, dia seperti meremasnya. Sentuhannya membuatku damai. Aku hanya diam merasakannya, dia yang terus bergerak.
Entah mengapa, aku tergerak. Kubalik tanganku, posisi berubah dimana telapak tanganku menyentuh telapak tangannya. Bersatu. Tanganku membalas genggamannya. Yah, kita sama-sama berdosa. Kita mengobrol tanpa melepas genggaman. Kurasa waktu itu malaikat Atit sedang sibuk mencatat kelakuanku yang tidak baik.
“Pernah ada mahasiswi konsultasi, bagaimana jika seseorang mengungkapkan cinta dengan ciuman…” Dia seperti akan bercerita, tapi aku mengerti maksudnya.
“Menyindirku? Aku tidak pernah ciuman.” Aku memotong perkataannya.
“Benar?”
“Aku bukan pembohong.” Kulepaskan genggamannya dan melempar tangannya sedikit menjauh dariku.
Aku memang pernah kencan, tapi tak pernah kubiarkan lelaki dengan leluasa menyentuhku. Ya, kecuali hari itu. Aku membiarkannya.
Tangannya kembali mendekati tanganku, kali ini dia menggenggam kedua tanganku secara bersamaan. Aku pasrah dengan yang dia lakukan, aku terima.
“Boleh aku menciummu? Hari ini saja. Setelah itu lupakan. Anggap hari ini tak pernah ada. Dan bila kita bertemu di lain hari, kembali bersikap seperti biasa. Kita begini cukup hari ini.”
“Tetaplah tidak boleh meskipun cuma hari ini.”
Dia menghela napas, melepas genggamannya dan diam.
“Tidak mau kalau jalan tidak ada tujuan begini, kita mau kemana?” Tanya dia kemudian.
“Yang mengajak yang memutuskan.” Jawabku.
“Aku lelah sekali, banyak pekerjaan. Biasanya kalau kesini aku istirahat di hotel langgananku. Aku pengen tidur. Mau kalau ke hotel?” Ajak dia.
“Malu ah, penampilanku seperti ini.” Alasanku saja untuk menolaknya. Alasan yang tepat karena waktu itu aku memakai rok, kaos pendek yang kututup dengan jaket dan tak lupa berjilbab.
“Lucu kamu ini.” Dia tertawa kecil.
Perasaanku sudah membiusku sampai berani melakukan hal sejauh ini. Bagaimana aku bisa menjamin kalau aku tidak akan melakukan dosa yang lebih besar jika aku di dalam hotel hanya berdua bersamanya? Mungkin ini hikmah melakukan shalat. Ketika berada dalam situasi tak dapat mengendalikan diri, shalat menjalankan perannya sebagai amar ma’ruf nahi mungkar, meskipun tidak merasakannya secara langsung. Tentulah shalatku masih belum sempurna, sehingga pengendalian diriku pun ala kadarnya.
Dia menerima telepon dari entah siapa. Dia bilang ada pekerjaaan penting jadi tidak bisa mengantarku pulang. Dia menggenggam tanganku lagi, sebagai perpisahan kalau tak akan ada hari dimana kita sengaja melakukan dosa lagi, hari yang mungkin akan kurindukan. Akhirnya, dia menurunkanku di tepi jalan dan pergi.
Hari itu aku merasakan rasa yang aneh. Mengikat kuat seperti jerat. Terasa indah penuh pesona. Merubah lelah jadi gairah. Luka, hanyalah titik bahagia tertunda. Rindu, selalu terasa menggebu. Murka, takkan pernah bisa berkuasa. Bahagia ketika bersama. Mencari saat satu pergi. Berbagi sangatlah berarti. Entah rasa apakah ini? Tak bisa kusimpulkan apakah ini gejolak perasaan atau bisikan setan.
Mobilnya menjauh dari tempatku berdiri. Jam 01.00 pm. Kencan kilat kami hanya berlaku 1 jam. Bahagia dan kecewa. Aku bahagia karena walaupun tak pernah mengimpikannya, aku melakukan hal itu bersamanya. Jalan berdua dengannya membuat hatiku sejahtera, yah, mengesampingkan bahwa itu adalah dosa. Tapi aku sangat kecewa. Kenapa dia berlaku seperti itu? Padahal di anganku dia adalah lelaki yang menjunjung tinggi norma agama, lelaki yang melakukan banyak hal untuk kebaikan umat. Dan kenyataan yang kulihat, dia seperti lelaki yang tak mampu menahan hasrat.
Tapi aku rasa tidak mungkin jika dia melakukan itu karena berhasrat. Lelaki seperti dia tentu bisa mendapatkan wanita yang lebih dariku, yang cantik, kaya, dari keluarga berada dan sholihah. Aku tak selevel dengannya. Strata kita berbeda. Dia menganggapku sebagai adik saja itu sudah bagus. Apa mungkin untuk menguji keimananku? Ah, aku percaya dia bukan orang tinggi hati yang merasa dirinya paling benar sehingga perlu menguji keimanan orang lain. Atau mungkin dia memang seperti itu? Suka jalan dengan gadis dan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Dia bilang tak pernah seperti itu sebelumnya, tapi siapa yang tau kalau dia bohong. Sudahlah, cukup! Tak baik menjudge orang lain. Tapi jujur, hari itu aku sedikit tersinggung. Dia memperlakukanku seperti jajanan pinggir jalan yang sayang bila tidak dicicipi, dan ketika sudah bosan ditinggalkan.
Setelah hari itu otakku mengatakan kalau dia tidak baik. Menyebutkan sepuluh bahkan lebih ketidak baikan dari dirinya mungkin bisa. Tapi hatiku mengatakan dia tetaplah baik. Sangat baik. Namun aku tak mampu menyebutkan satu hal pun yang membuatnya menjadi baik di hatiku.
Hari itu aku belajar bahwa hati bisa jatuh kepada siapa saja tanpa pandang itu baik atau buruk, pantas atau senjang, dan halal atau haram. Perasaan yang sering diagungkan kadang juga bisa melemahkan, dan ketika itu terjadi, agamalah yang mampu meluruskan. Kuakui, hari itu aku melakukan kesalahan. Seperti permintaannya, biarlah hari itu menjadi rahasia. Rahasia dia, rahasiaku dan rahasia kita para pembaca. Benar tidaknya, Tuhanlah yang Maha Mengetahui segalanya…
WASSALAM
Cerpen Karangan: Miga Imaniyati
Facebook: Miga Imaniyati
Cerpen Islami : Rahasia Sebuah Peristiwa
Sungawi sangat sedih, meratapi nasibnya menjadi orang
miskin. Sungawi ingin sekali bekerja di salah satu pabrik atau
perusahaan, namun ia hanya bisa berangan-angan karena ia hanya tamat
SMP. Prestasi pun tidak punya. Ia hanya sebagai seorang pekerja
serabutan dengan penghasilan yang kurang dari cukup.
Pada suatu hari ia bertekat ingin melamar pekerjaan karena ia ditawari temannya untuk bekerja di sebuah perusahaan temannya. Ia sangat senang sampai tidak tahu harus bagaimana. Pagi hari itu ketika ibu belum bangun Sungawi hanya meninggalkan sepucuk surat di tangan ibunya yang sedang tidur. Ia segera menaiki sepedanya untuk menuju ke perusahaan tersebut.
Ketika di perjalanan ia berangan-angan apa yang akan dilakukannya jika sudah mendapatkan bayaran hingga ia jatuh ke dalam got, sesaat setelah ia terjatuh ke dalam got, sebuah pohon yang besar tumbang. Akhirnya celananya pun kotor sekali dan berbau tidak enak. Ia sangat sedih, namun ia belum patah semangat. Ia pergi ke sebuah toko di sebelah got itu untuk membeli sebuah celana, namun dengan uangnya yang sedikit ia pun hanya mendapatkan sebuah celana yang tidak sesuai ukurannya. Apa boleh buat, dia pun segera membelinya dan segera bergegas, namun ia kerepotan ketika akan berangkat lagi, karena terhalan pohon besar yang tumbang.
Ketika di Traffic Light, dia menunggu lampu merah hingga berganti hijau. Namun 2 menit berlalu nomor di traffic light itu tidak berhenti dan hatinya kesal akhirnya ia semakin geram dan menggerutu ingin menerobos lampu merah itu, lalu ia bersabar. Akhirnya lampu berubah ke warna hijau, ia mengayuh sekencang mungkin hingga sampai di Jalan Enggano. Di Jalan itu ia tiba-tiba bingung mana belokan yang harus dilewati, lalu ia merogohi celananya, ia sadar bahwa alamat kantor itu tertinggal di celananya tadi. Dan ketika kembali celananya sudah diambil tukang rosok.
Dengan hati penuh kesal, ia pulang lagi ke rumah dan tidak jadi melamar pekerjaan itu. Ia terus kesal dan muram hingga malam hari ia akan tidur. Waktu akan tidur ia mengeluh kepada Allah, bahwa masalahnya sangat besar. Ia berdoa agar Allah memberi jawaban. Ketika di dalam mimpi ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang berlari mengejarnya, ia pun lari ketakukan namun di sekelilingnya hanya gelap. Ia tersandung dan jatuh, lalu orang itu menolongnya. Lalu ia bilang bahwa semua kejadian yang ia alami tadi pagi adalah pertolongan Allah. Ia heran, dia sangat sial seperti itu malah dibilang pertolongan Allah. Lalu orang itu menjelaskan bahwa ketika ia terjatuh ke dalam got sebenarnya Allah menyelamatkannya dari sebuah kecelakaan, jika ia tidak terjatuh ke dalam got, dia pasti akan terkena pohon yang tumbang. Lalu ia bertanya kenapa lampu traffic light error hingga waktu yang lama, lalu orang itu menjelaskan bahwa jika ia menerobos lampu merah, ia akan tertabrak truk. Lalu ia bertanya lagi kenapa ia kehilangan kertas yang berisikan alamat. Lalu orang itu menjelaskan, bahwa ia ditipu temannya, jika ia sampai lewat jalan itu, pasti dia akan dihajar oleh preman karena dia tidak memiliki uang. Karena belokan yang dituliskan temannya adalah jalan yang salah dan penuh marabahaya. Sungawi pun sadar bahwa itu semua adalah rahasia dibalik kesialan yang dialaminya.
Ia pun sadar bahwa Allah tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan. Baik itu berupa kesialan maupun keberuntungan. Selalu ada sebuah rahasia di balik itu. Akhirnya beberapa hari setelah itu, ia mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan. Ia sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah.
Cerpen Karangan: Ahmad Ghulam Azkiya
Facebook: www.fb.me/suzuranscout
Halo! Namaku Ghulam! Aku seorang anak biasa yang sedang diberi tugas oleh guruku untuk membuat cerpen, jadi aku iseng-iseng untuk mempublikasikan di sebuah situs ini. Semoga cerpen ini bisa menjadi nasihat untuk kalian yang sedang berputus asa
Pada suatu hari ia bertekat ingin melamar pekerjaan karena ia ditawari temannya untuk bekerja di sebuah perusahaan temannya. Ia sangat senang sampai tidak tahu harus bagaimana. Pagi hari itu ketika ibu belum bangun Sungawi hanya meninggalkan sepucuk surat di tangan ibunya yang sedang tidur. Ia segera menaiki sepedanya untuk menuju ke perusahaan tersebut.
Ketika di perjalanan ia berangan-angan apa yang akan dilakukannya jika sudah mendapatkan bayaran hingga ia jatuh ke dalam got, sesaat setelah ia terjatuh ke dalam got, sebuah pohon yang besar tumbang. Akhirnya celananya pun kotor sekali dan berbau tidak enak. Ia sangat sedih, namun ia belum patah semangat. Ia pergi ke sebuah toko di sebelah got itu untuk membeli sebuah celana, namun dengan uangnya yang sedikit ia pun hanya mendapatkan sebuah celana yang tidak sesuai ukurannya. Apa boleh buat, dia pun segera membelinya dan segera bergegas, namun ia kerepotan ketika akan berangkat lagi, karena terhalan pohon besar yang tumbang.
Ketika di Traffic Light, dia menunggu lampu merah hingga berganti hijau. Namun 2 menit berlalu nomor di traffic light itu tidak berhenti dan hatinya kesal akhirnya ia semakin geram dan menggerutu ingin menerobos lampu merah itu, lalu ia bersabar. Akhirnya lampu berubah ke warna hijau, ia mengayuh sekencang mungkin hingga sampai di Jalan Enggano. Di Jalan itu ia tiba-tiba bingung mana belokan yang harus dilewati, lalu ia merogohi celananya, ia sadar bahwa alamat kantor itu tertinggal di celananya tadi. Dan ketika kembali celananya sudah diambil tukang rosok.
Dengan hati penuh kesal, ia pulang lagi ke rumah dan tidak jadi melamar pekerjaan itu. Ia terus kesal dan muram hingga malam hari ia akan tidur. Waktu akan tidur ia mengeluh kepada Allah, bahwa masalahnya sangat besar. Ia berdoa agar Allah memberi jawaban. Ketika di dalam mimpi ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang berlari mengejarnya, ia pun lari ketakukan namun di sekelilingnya hanya gelap. Ia tersandung dan jatuh, lalu orang itu menolongnya. Lalu ia bilang bahwa semua kejadian yang ia alami tadi pagi adalah pertolongan Allah. Ia heran, dia sangat sial seperti itu malah dibilang pertolongan Allah. Lalu orang itu menjelaskan bahwa ketika ia terjatuh ke dalam got sebenarnya Allah menyelamatkannya dari sebuah kecelakaan, jika ia tidak terjatuh ke dalam got, dia pasti akan terkena pohon yang tumbang. Lalu ia bertanya kenapa lampu traffic light error hingga waktu yang lama, lalu orang itu menjelaskan bahwa jika ia menerobos lampu merah, ia akan tertabrak truk. Lalu ia bertanya lagi kenapa ia kehilangan kertas yang berisikan alamat. Lalu orang itu menjelaskan, bahwa ia ditipu temannya, jika ia sampai lewat jalan itu, pasti dia akan dihajar oleh preman karena dia tidak memiliki uang. Karena belokan yang dituliskan temannya adalah jalan yang salah dan penuh marabahaya. Sungawi pun sadar bahwa itu semua adalah rahasia dibalik kesialan yang dialaminya.
Ia pun sadar bahwa Allah tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan. Baik itu berupa kesialan maupun keberuntungan. Selalu ada sebuah rahasia di balik itu. Akhirnya beberapa hari setelah itu, ia mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan. Ia sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah.
Cerpen Karangan: Ahmad Ghulam Azkiya
Facebook: www.fb.me/suzuranscout
Halo! Namaku Ghulam! Aku seorang anak biasa yang sedang diberi tugas oleh guruku untuk membuat cerpen, jadi aku iseng-iseng untuk mempublikasikan di sebuah situs ini. Semoga cerpen ini bisa menjadi nasihat untuk kalian yang sedang berputus asa
Langganan:
Postingan (Atom)























